Kota Bekasi Dianggap Kota Preman, Ini Kata Walikota Bekasi

  • Whatsapp
Walikota Bekasi bersama Kapolreta Kota Bekasi, Dandim 0507 dan Aliansi Kota Bekasi Dihalaman Kantor Walikota Bekasi

KORANSIDAK.CO.ID, BEKASI – Wali Kota Bekasi, Rahmat Effendi  mengklaim wilayah yang dipimpinnya berjalan aman dari bentuk premanisme dan pertumbuhan ekonomi daerah semakin menggeliat. Pernyataan ini disampaikan Rahmat menyusul viralnya aksi unjukrasa ribuan masyarakat dari berbagai organisasi kemasyarakatan (Ormas) dan pernyataan Kepala Badan Pendapatan Daerah, Aan Suhanda saat terjadi unjukrasa di SPBU Jl. Narogong Rawalumbu Kota Bekasi beberapa waktu lalu.

Pepen sapaan Rahmat Effendi mengklarifikasi bahwa viral di media sosial yang menyebut Kota Bekasi tidak aman merupakan kekeliruan atas realitas yang terjadi. Pepen mengungkapkan bahwa pertumbuhan ekonomi Kota Bekasi sangat baik. Dengan begitu, penyebutan Kota Bekasi sebagai Kota Preman berbalik dengan kenyataan.

Muat Lebih

“Persoalan medsos yang meyatakan bahwa Kota Bekasi tidak aman dan tidak nyaman, bahkan anekdot seperti Kota Preman perlu diluruskan. Jangan pernah ragukan kami dalam mengelola pemerintahan yang baik dan benar. Perkembangan Kota Bekasi bisa dilihat by data,” kata Pepen kepada awak media, Senin (4/11/2019).

Pepen mengakui bahwa pihaknya memberikan kesempatan bagi kelompok masyarakat untuk memanfaatkan potensi perkembangan ekonomi di wilayahnya.

Hal itu ia perkuat dengan adanya surat dukungan agar para pengusaha memberdayakan potensi lokal melalui organisasi kemasyarakatan.

“Memang ada pemberdayaan untuk peningkatan kepada teman-teman yang selama ini belum mendapatkan kesempatan dari proses ini. Namun semuanya harus berjalan kepada ketentuan sesuai kesepakatan. Demi mewujudkan kota yang aman dan nyaman untuk masyarakat yang tinggal di Kota Bekasi,” katanya.

Unggahan video berdurasi 8 menit yang berisikan Ormas Bekasi menggeruduk salah satu minimarket, mendapat kecaman dari warganet, baik atas unggahan di youtube maupun facebook. Warganet mengecam tindakan yang dilakukan ormas membuat kenyamanan berinvestasi di Kota Bekasi terganggu.

Bahkan, dengan adanya dukungan pemerintah, ormas dituding melampaui kapasitasnya dengan memaksa para pengusaha untuk bekerjasama dengan mereka.

Warganet menyamakan antara Kota Bekasi dengan sejumlah ormasnya seperti di beberapa Negara lain yang dikuasai oleh preman. Diantaranya adalah Jepang dengan Yakuza, Mexico dengan Kartel dan China dengan kelompok Triadnya.

Ketua Gibas Kota Bekasi, Deni Ahmad yang terpampang wajahnya dalam video tersebut mengungkapkan permintaan maaf kepada masyarakat atas peristiwa tersebut.

Dalam kesempatan bertatap muka dengan sejumlah awak media, Deni Ahmad yang didampingi Wali Kota Bekasi, Kapolres Metro Bekasi Kota dan Kodim 0507 Bekasi, mengatakan ungkapannya dalam video tersebut tindakan spontan tanpa maksud beruat gaduh.

“Saya mengucapkan maaf atas semua ini. Semua hanya sekedar ungkapan dan tidak ada maksud lain. Kami mendukung pemerintah, kepolisian dan TNI,” ungkap Deni.

Dia meminta agar video yang viral tersebut dihentikan karena dapat memancing situasi yang tidak baik di Kota Bekasi. “Stop viral yang membuat kondisi tidak baik. Kita ormas akan mengikuti aturan main di Kota Bekasi,” kilahnya.

Sementara, Ketua Komisi I DPRD Kota Bekasi, Abdul Rojak menilai ungkapan “Kota Bekasi, Kota Preman” tidaklah benar. Ia tidak sepakat dengan ungkapan tersebut.

Perihal adanya aksi yang dilakukan organisasi masyarakat beberapa waktu lalu adalah bentuk gerakan yang dimaksudkan untuk membantu Pemerintah Kota Bekasi dalam mencapai target pendapatan dari sektor perparkiran.

“Wajar kalau pemerintah kota bekasi meberdayakan Ormas untuk membantu pencapaian pajak dari sektor parkir, tidak salah, jika perencanaanya jelas. Saya tidak sepakat kalau sampai ada yang sebut Kota Bekasi ini Kota Preman. Kota Bekasi ini Kota Ihsan, Ormas juga membantu kentraman dan keamanan di Kota Bekasi,” tambahnya. (snm/jelly)

Pos terkait