Potongan Dana PKH Pungli, Kasi PMD Kec. Pebayuran: Dinsos Harus Bertindak Tegas

Bagikan Berita Ini

Reporter: Heriyanto
Editor: Hamdan Bule

 

Ilustrasi

KORANSIDAK.CO.ID – Kasi Pemerintahan Desa (PMD) Kecamatan Pebayuran, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Nursidi mengatakan, adanya dugaan potongan yang dilakukan oknum ketua kelompok Program Keluarga Harapan (PKH) di Kampung Kobak Cina, RT 10/05 Dusun III, Desa Sumbereja, adalah pungutan liar (Pungli).

Karena kata Nursidi, apapun jenis dan alasannya, pungli tidak dibenarkan. Karna dana yang diterima warga dari bantuan Kementrian Sosial itu tidak ada aturan yang menjelaskan tentang potong dana.

Pihaknya pun sangat menyangkan hal tersebut, karena masih ada oknum yang berani melakukan itu.

“Ini kan artinya sengaja mengambil keuntungan pribadi, uang itu kan hak orang miskin,” kata dia.

Agar kejadian serupa tidak terulang, pihaknya meminta Dinas Sosial Kabupaten Bekasi atau Kementrian Sosial untuk segera mengambil tindakan tegas terhadap oknum tersebut.

Baca juga: Ramai Dana PKH Disunat, Oknum Ketua Kelompok Minta Kadus Cabut Pemberitaan

“Saya kan Kasi PMD Kecamatan, sampai saat ini gak tahu berapa jumlah Keluarga Penerima Manpaat (KPM) dan berapa jumlah Program Keluarga Harapan,” pungkasnya.

Sebelumnya, Ibu Nenih (35) dan Ibu Somah (39) warga Kampung Kobak Cina, RT 10/05 Dusun III, Desa Sumbereja, Kecamatan Pebayuran, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, mengeluhkan potongan dana bantuan pemerintah melalui Program Keluarga Harapan (PKH) yang diduga dilakukan oknum ketua kelompok.

Selama ini, masyarakat penerima bantuan tidak mengetahui ada pemotongan dana PKH yang dilakukan oknum ketua kelompok setiap pencairan dilakukan.

Karena, buku tabungan dan kartu ATM masyarakat penerima manfaat dipegang langsung oleh oknum ketua kelompok dan tidak diserahkan kepada masyarakat.

Setiap pencairan dana, oknum ketua kelompok hanya membagikan uang tanpa disertai dengan bukti penarikan (struk bank).

“Setelah saya minta print out ke Bank, ternyata uang yang masuk Rp 1,3 juta, sementara uang yang saya terima hanya Rp 900ribu,” kata Nenih. (*)